Filsafat dan Sastra

Filsafat dan Sastra

Dalam sastra ada filsafat, dalam filsafat ada sastra;
Begitulah jalin menjalin membentuk ikat jalur sutra,
Tempat ilmu berlalu-lalang menyapa umat manusia.
Dulu tak usah ditanya, filsafatlah yang menjadi raja
Merajut tidak hanya olah krida pikir melainkan juga
Peradaban manusia serta bentang alur sejarahnya.
Lalu perlahan ilmu pengetahuan terapan namanya
Mengambil alih pintal romantika olah pikir semesta.
Filsafat masih ada sastra terus berjaya, hanya saja
Sempat walau ya hanya sejenak saja, dua saudara
Ditinggal di rak-rak meja serta tak lagi dibawa serta
Manakala kerja, kerja dan kerja yang jadi panglima.
Konon kata mereka guna bekerja filsafat dan sastra
Tak terlalu penting perannya karena jika hanya kata
Bukankah cuma perlu secukup dan sekedarnya saja?

Mungkin ada benarnya, tapi hendaknya jangan lupa,
Filsafat Sastra itu dua saudara kembar nan perkasa
Yang tatkala bergandengan tangan erat senantiasa,
Perannya guna membingkai inti peradaban manusia
Tidak tergantikan sepanjang masa, abadi serta jaya.
Para pemikir konsep-konsep utama menuangkannya
Dalam pintalan jaringan sutra beralur fantasi sastra,
Sedangkan para sastrawan besar menjahit pita-pita
Metafora sastra dalam sulaman filsafat pengikat jiwa.
Dan tahu apa hasil kolaborasi via olah pikir semesta?
Sulaman berenda sutra menawan dahsyat luar biasa
Yang jauh membentang sejak manusia pertama ada
Sampai ke bayi yang mungkin lahirnya ya baru saja.
Itulah rona riang Sastra Filsafat dan Filsafat Sastra,
Membuat mata anak muda berbinar tanda terpesona
Betapa kilau nada mutiara, penata peradaban dunia
Menanti dengan denting halus nada merdu metafora.

Kolaborasi Sastra Filsafat terus anggun membahana
Menyerukan pada pencinta peradaban serta budaya,
Betapa anggun mempesona latar tataran para dewa,
Tempat semua rasa tak hanya diolah disulam mesra
Tetapi juga ditanya, sampai bagian terdalam intinya.
Hai ayo dengan kasih dan cinta rajut semua pesona,
Sulam semua tinta, lalu bentangkan seantero dunia,
Betapa sukma, kenangan, harapan, kasih dan cinta,
Tetap akan abadi sepanjang pemujanya teguh setia.
Simak karya fenomenal The Republic, Plato punya
Yang menyulam merajut tidak hanya budaya sastra,
Tetapi juga filsafat sastra populer bernuansa utopia.
Juga tengok, setelah satu dua milenum membahana
Bagaimana Kant bersama kaum empirisme di Eropa
Menanyakan gagasan dalam pikiran bebas manusia
Dibandingkan dengan dunia nyata, fakta dan realita?
Lalu juga ditanya apakah kata, makna, serta bahasa
Dapat menjembatani halangan metafora pikiran jiwa?

Gempuran gelombang pertanyaan, yang kadang kala
Jawabnya belum ada, menambah rona kejutan genta.
Kritik Sastra walau sumbang ditembang sebagai daya
Upaya jawaban sebisa-bisa apa yang banyak ditanya,
Karena sebagian dari mereka jawabnya mungkin saja
Telah ada dalam banyak karya sastra, riuh membara.
Lalu sastra klasik dari barat dan timur, selatan utara,
Kembali gegap gempita dibaca, ditelaah, dan disuara.
Rumi dan Basho, Eliot dan Neruda, Joyce dan Kafka,
Jelas kelas sastrawan besar yang juga filsuf ternama
Dilirik kritikus berlama-lama karena bisa saja di sana
Tergurat semua jawab yang dicari orang antero dunia.
Nama lain seperti Goethe, Khayyam, Camus, Pessoa,
Juga Dostoevsky, Tolstoy, Kierkegaard, dan Kundera,
Riuh rendah bercengkerama menyapa pelangi sastra
Yang disulam dengan benang absurditas eksistensia.
Lalu apa hasilnya? Manusia tercengang, kaum muda
Terpesona, dan nihilisme sejenak berjaya curi dunia.
Hanya saja semua tak lama, segera dicuri perannya
Oleh yang namanya budaya populer via dunia maya.

Sekarang memang era dunia maya, tapi karya sastra
Yang di dalamnya terbentang hamparan rona budaya
Serta filsafat serta pemikiran peradaban dunia nyata
Ya tetap berjaya, walau mungkin media serta sarana
Haruslah berani dan rela dibagi lebih banyak ke sana.
Dan ini semua bukan karena apa-apa, melainkan saja
Ini semata-mata tuntutan kemajuan zaman namanya.
Sastra dan Filsafat pada inti dalamnya ya sama saja
Tetapi kemasan luar hampir saja total berubah rupa.
Gaya cetak memang masih ada, tapi era dunia maya
Perlahan menggerogoti sehingga semua nyaris sirna.
Sedangkan kasus harapan serta cinta, duka gembira,
Pahit manis berbunga-bunga, getir rindu tidak terkira
Ya masih saja sama intinya, lha wong untuk manusia.
Begitulah, pendar rona imajinasi metafora tetap sama
Hanya media maya diubah sedemikian rupa sehingga
Lebih seru lebih intens, bahas dunia penuh cita-cita.
Ayo filsafat ayo sastra, kalian harus tetap abadi jaya,
Karena jika tidak lalu bagaimana nasib peradaban kita?

Dr. Tri Budhi Sastrio XZSS27022017 WA 087853451949
Essi - 376


Comments:
David Yoseph Erlambang : Lahan hidup manusia adalah sebuah peluang. Manusia terpeluangkan hidup untuk berimajinasi. Sebetulnya semua nilai adalah hasil imajinasi. Terserah bagaimana caranya (metoda) untuk membujukrayu orang lain supaya bersepakat atau meyakini. 😍

==== Sumber

0 Response to "Filsafat dan Sastra"

Post a Comment